Sepenggal Kisah Perjalanan Kami

Thursday, February 04, 2010

Lima Hal Yang Harus Anda Tanamkan Pada Anak

Saya yakin semua orang tua menginginkan buah hatinya menjadi orang yang sukses, mandiri, percaya diri, mampu menggapai cita citanya dan bisa berbahagia dunia akhirat. Untuk mewujudkan hal ini, mustahil kita selaku orang tua hanya berpangku tangan saja menunggu sampai saat itu tiba. Orang tua harus membantu anak-anaknya untuk bisa mencapai semua itu.

Kebetulan saya mendapat bocoran lima hal fundamental yang harus ditanamkan oleh orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Saya share disini ya

1. Kepercayaan
Percaya pada orang lain adalah hal yang paling mendasar bagi seorang anak agar nantinya ia dapat membina hubungan dengan orang lain, membentuk rasa percaya dirinya, dan maju dalam setiap tahap proses perkembangannya, oleh karena itu harus ditanamkan sejak anak lahir. Dimulai dengan rasa percaya pada orang tuanya, yang dapat tumbuh dalam diri anak jika ia selalu merasa aman setiap kita berinteraksi dengannya, menyusuinya ketika ia lapar, menggantikan popoknya saat kotor, memeluk saat ia membutuhkannya, atau hanya dengan menatap matanya. Seiring dengan itu pula, ia mulai belajar untuk menumbuhkan rasa percaya pada orang lain dan dirinya sendiri. Setiap anak akan menunjukkan perilaku yang berlainan agar mereka diperhatikan orang tuanya. Terbiasalah akan hal ini, pahami apa yang anak butuhkan saat itu, dan penuhilah segera. Semakin anak mengerti bahwa kita memahaminya, semakin tinggi tingkat kepercayaannya pada kita.

2. Kesabaran
Anda dapat menanamkan kesabaran pada diri anak dengan cara memberi contoh melakukan sesuatu yang membutuhkan kesabaran, karena anak memiliki perilaku untuk meniru orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia melihat, kemudian ia melakukannya. Membanting pintu saat Anda menutupnya sepulang bekerja karena kepenatan dan kemacetan lalu lintas, merupakan contoh yang sangat buruk bagi seorang anak. Tetapi membantu anak membersihkan susu yang ia tumpahkan ke lantai memberikan penglihatan yang lain bagi dirinya. Untuk melatih kesabaran anak, ajarilah dia untuk menunggu bukan dalam hitungan waktu, tapi dengan ukuran suatu keadaan. Jika anak menginginkan Anda untuk mengambilkan sesuatu yang tidak dapat ia jangkau padahal Anda sedang mengerjakan sesuatu, memasak misalnya, katakan padanya bahwa Anda akan mengambilkan apa yang ia inginkan jika Anda telah selesai memasak, daripada Anda mengatakan, " Iya, tunggu lima menit lagi ". Melalui hal ini, anak akan menilai sendiri berapa lama ia akan mendapatkan keinginannya dengan menunggu dan memperhatikan kapan Anda selesai memasak.

3. Tanggung jawab
Jika kita ingin sukses, banyak komitmen yang harus kita buat dan kita laksanakan dengan konsisten. Saat anak Anda menjatuhkan botol susunya ke lantai dan melihat Anda mengambilkan botol susu itu untuknya, ia akan mengulanginya kembali dengan sengaja. Hal ini menandakan bahwa ia mulai mengenal hubungan sebab akibat dan belajar bahwa ada konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Ini adalah saat dimana Anda dapat mulai melatih rasa tanggung jawab anak dengan memintanya melakukan hal-hal yang mudah, seperti mengembalikan mainan pada tempatnya. Agar anak juga tahu mengapa ia melakukan hal itu, Anda harus memberitahukan maksud dari sesuatu yang Anda ingin ia lakukan. Selaras dengan pertumbuhan dan perkembangannya, anak membutuhkan waktu untuk memahami kemudian melakukan sesuatu yang Anda minta dalam rangka mendidiknya untuk mempunyai rasa tanggung jawab. Oleh karena itu orang tua tidak dapat memaksakan atau sekaligus menanamkan begitu banyak tanggung jawab pada seorang anak.

4. Kemandirian
Kemandirian akan membantu anak Anda untuk mempunyai rasa percaya diri dalam menginginkan dan memutuskan sesuatu bagi dirinya. Anda dapat menumbuhkan kemandirian pada anak dengan cara membiarkannya melakukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh anak seusianya. Saat anak berusia 1 tahun, ajari dia makan sendiri menggunakan sendok, satu tahun berikutnya ajari dia berpakaian sendiri. Buatlah menjadi lebih mudah sesuatu yang dapat ia lakukan sendiri, seperti membelikannya sepatu tanpa tali pengikat, atau kaos yang agak longgar sehingga ia dapat mengenakannya sendiri. Namun saat anak membutuhkan bantuan Anda, berikan kepastian bahwa Anda akan membantunya. Angkatlah ia supaya dapat mengambil mainan yang diinginkannya, saat ia tidak dapat menjangkaunya. Sesuai dengan pertambahan usianya, buatlah situasi dimana ia harus memilih satu dari beberapa pilihan. Kunci keberhasilan untuk menumbuhkan kemandirian pada anak adalah fleksibilitas, menyesuaikan perilaku saat kita berinteraksi dengan sang anak. Arahkan mereka hanya pada awalnya, kemudian biarkan mereka melakukan dan memutuskan sendiri sesuatu sesuai dengan proses berkembang mereka menjadi dewasa. Jika orang tua mengintervensi terlalu banyak, anak akan sulit menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuannya sendiri dan ia tidak dapat belajar untuk bertahan saat ia menghadapi kesulitan.

5. Empati
Seorang anak terkadang menunjukkan bentuk primitif dari sikap empati, misalnya dengan menangis saat melihat ibunya sedang menangis. Sebenarnya seorang anak belum mengerti akan perasaan orang lain sebelum usianya mencapai 3-6 tahun. Seorang anak yang berumur 2 tahun tidak akan tahu bahwa dengan menggigit lengan kakaknya berarti ia telah menyakitinya, karena pada saat itu ia sendiri tidak merasakan sakit. Untuk membantu anak memiliki rasa empati, orang tua harus memberitahukan pada anak saat ia melakukan sesuatu yang dapat menyakiti, membuat sedih atau marah orang lain. Katakan padanya, bagaimana jika hal yang sama dilakukan pada dirinya. Katakanlah hal ini berulang-ulang, karena seorang anak umumnya mempunyai sifat egosentris, ia tidak akan memikirkan sesuatu yang tidak langsung ia rasakan. Pada dasarnya orang tua harus memberi contoh dengan melakukan segala hal yang mereka ingin anak-anak lakukan terhadap orang lain, maksudnya adalah dengan memberikan perhatian pada setiap kebutuhan mereka serta menghargai perasaan mereka, karena sikap empati adalah kunci untuk menuju keberhasilan seseorang dalam bersosialisasi.

Semoga bermanfaat

* Sumber: Ustad Joban

9 comments:

  1. halo.. rasanya udah lama nggak mampir kesini.. btw.. tulisan ini bisa jadi panduan ntuk menjadi orang tua yg baik..

    ReplyDelete
  2. makasi mba atas infonya..
    bisa buat belajar jadi orangtua yang baik dan benar nih..
    tapi belum punya baby..:6:

    ReplyDelete
  3. Jadi pengen cepet punya anak mbak :D
    Hehehe ... tapii nikah aja belum :D

    ReplyDelete
  4. harus lebih belajar lagi nih untuk point 2 :)

    ReplyDelete
  5. @ Ali Mas'adi, pemiliknya aja juga jarang mampir :4: Thanks kunjungannya.

    @ Syifa, Laisya, Lidya, benar kita sama sama belajar untuk menjadi yang terbaik buat buah hati.

    ReplyDelete
  6. nice sharing, tp aku pcr aja blm pnya heheee..

    ReplyDelete
  7. disimpan...
    digunakan nanti kalo sudah punya anak., hehehee

    ReplyDelete
  8. sy sependapat sama semuanya mbak :)

    ReplyDelete
  9. Artikel yg sangat bermanfaat dan bisa menjadi referensi saya sebagai seorang ayah :)
    Salam kenal.

    ReplyDelete

Sopan dan Santun dalam berkomentar, disukai banyak teman...
Terima Kasih ^_^

© The Journey