Sepenggal Kisah Perjalanan Kami

Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Sunday, May 13, 2012

Kisah Seorang Ibu dengan Anaknya yang Buta

Hari ini di Amerika diperingati sebagai Hari Ibu. Bicara tentang ibu, berikut ada video tentang seorang ibu yang dengan sabar mengasuh dan membesarkan anaknya yang buta.

Salut buat sang ibu...yang dengan sabar dan telaten membesarkan Christian (nama bayi tersebut).
Sabar menghadapi orang orang di sekitar yang merasa aneh jika melihat Christian.
Karena memang tidak mudah menghadapi semua itu.

Happy Mother's Day...

update:
video tersebut sudah dihapus sama yang punya.
kalo ingin tahu kisah Christian bisa langsung maen ke
http://christianbuchanan.blogspot.com/
Read More

Tuesday, May 18, 2010

Seven Habbits Muslim

Hmmmmm lama tidak bersua...
Jadi merasa asing meski di rumah sendiri
Inginnya sih tetep exist blogging, tapi yach... saya hanyalah manusia biasa yang tidak lepas dari keterbatasan.

Terlepas dari semua itu, kali ini saya ingin berbagi tentang 7 prinsip (kebiasaan) seorang muslim yang diambil dari surat Al-Fatihah.

Seorang Muslim tidak boleh terlepas dari 7 kebiasaan ini sebagaimana ia tidak boleh lupa dan alpa apalagi tidak melakukannya untuk membaca Al-Fatihah pada saat mendirikan shalat.

Dari surat al-Fatihah dapat kita ambil pelajaran akan tujuh prinsip dasar seorang muslim dalam bekerja dan berkarya serta menjalani kehidupannya sehari-hari. Dan tujuh prinsip ini pula yang menggabungkan tiga kecerdasan dasar manusia; yaitu spiritual, intelektual dan emosional.
7 kebiasaan itu adalah :

1. Bismillah dalam memulai setiap pekerjaan,

2. Bersyukur atas segala nikmat yang diterima,

3. Berfikir positif terhadap Allah dan berkasih sayang terhadap sesama,

4. Berorientasi akhirat,

5. Bahagiakan hidup dengan ibadah dan doa,

6. Konsisten dalam komitmen,

7. Bercermin dan mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu

Semoga bermanfaat...

* Sumber: Ustadz Amir Faishol
Read More

Thursday, February 04, 2010

Lima Hal Yang Harus Anda Tanamkan Pada Anak

Saya yakin semua orang tua menginginkan buah hatinya menjadi orang yang sukses, mandiri, percaya diri, mampu menggapai cita citanya dan bisa berbahagia dunia akhirat. Untuk mewujudkan hal ini, mustahil kita selaku orang tua hanya berpangku tangan saja menunggu sampai saat itu tiba. Orang tua harus membantu anak-anaknya untuk bisa mencapai semua itu.

Kebetulan saya mendapat bocoran lima hal fundamental yang harus ditanamkan oleh orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Saya share disini ya

1. Kepercayaan
Percaya pada orang lain adalah hal yang paling mendasar bagi seorang anak agar nantinya ia dapat membina hubungan dengan orang lain, membentuk rasa percaya dirinya, dan maju dalam setiap tahap proses perkembangannya, oleh karena itu harus ditanamkan sejak anak lahir. Dimulai dengan rasa percaya pada orang tuanya, yang dapat tumbuh dalam diri anak jika ia selalu merasa aman setiap kita berinteraksi dengannya, menyusuinya ketika ia lapar, menggantikan popoknya saat kotor, memeluk saat ia membutuhkannya, atau hanya dengan menatap matanya. Seiring dengan itu pula, ia mulai belajar untuk menumbuhkan rasa percaya pada orang lain dan dirinya sendiri. Setiap anak akan menunjukkan perilaku yang berlainan agar mereka diperhatikan orang tuanya. Terbiasalah akan hal ini, pahami apa yang anak butuhkan saat itu, dan penuhilah segera. Semakin anak mengerti bahwa kita memahaminya, semakin tinggi tingkat kepercayaannya pada kita.

2. Kesabaran
Anda dapat menanamkan kesabaran pada diri anak dengan cara memberi contoh melakukan sesuatu yang membutuhkan kesabaran, karena anak memiliki perilaku untuk meniru orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia melihat, kemudian ia melakukannya. Membanting pintu saat Anda menutupnya sepulang bekerja karena kepenatan dan kemacetan lalu lintas, merupakan contoh yang sangat buruk bagi seorang anak. Tetapi membantu anak membersihkan susu yang ia tumpahkan ke lantai memberikan penglihatan yang lain bagi dirinya. Untuk melatih kesabaran anak, ajarilah dia untuk menunggu bukan dalam hitungan waktu, tapi dengan ukuran suatu keadaan. Jika anak menginginkan Anda untuk mengambilkan sesuatu yang tidak dapat ia jangkau padahal Anda sedang mengerjakan sesuatu, memasak misalnya, katakan padanya bahwa Anda akan mengambilkan apa yang ia inginkan jika Anda telah selesai memasak, daripada Anda mengatakan, " Iya, tunggu lima menit lagi ". Melalui hal ini, anak akan menilai sendiri berapa lama ia akan mendapatkan keinginannya dengan menunggu dan memperhatikan kapan Anda selesai memasak.

3. Tanggung jawab
Jika kita ingin sukses, banyak komitmen yang harus kita buat dan kita laksanakan dengan konsisten. Saat anak Anda menjatuhkan botol susunya ke lantai dan melihat Anda mengambilkan botol susu itu untuknya, ia akan mengulanginya kembali dengan sengaja. Hal ini menandakan bahwa ia mulai mengenal hubungan sebab akibat dan belajar bahwa ada konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Ini adalah saat dimana Anda dapat mulai melatih rasa tanggung jawab anak dengan memintanya melakukan hal-hal yang mudah, seperti mengembalikan mainan pada tempatnya. Agar anak juga tahu mengapa ia melakukan hal itu, Anda harus memberitahukan maksud dari sesuatu yang Anda ingin ia lakukan. Selaras dengan pertumbuhan dan perkembangannya, anak membutuhkan waktu untuk memahami kemudian melakukan sesuatu yang Anda minta dalam rangka mendidiknya untuk mempunyai rasa tanggung jawab. Oleh karena itu orang tua tidak dapat memaksakan atau sekaligus menanamkan begitu banyak tanggung jawab pada seorang anak.

4. Kemandirian
Kemandirian akan membantu anak Anda untuk mempunyai rasa percaya diri dalam menginginkan dan memutuskan sesuatu bagi dirinya. Anda dapat menumbuhkan kemandirian pada anak dengan cara membiarkannya melakukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh anak seusianya. Saat anak berusia 1 tahun, ajari dia makan sendiri menggunakan sendok, satu tahun berikutnya ajari dia berpakaian sendiri. Buatlah menjadi lebih mudah sesuatu yang dapat ia lakukan sendiri, seperti membelikannya sepatu tanpa tali pengikat, atau kaos yang agak longgar sehingga ia dapat mengenakannya sendiri. Namun saat anak membutuhkan bantuan Anda, berikan kepastian bahwa Anda akan membantunya. Angkatlah ia supaya dapat mengambil mainan yang diinginkannya, saat ia tidak dapat menjangkaunya. Sesuai dengan pertambahan usianya, buatlah situasi dimana ia harus memilih satu dari beberapa pilihan. Kunci keberhasilan untuk menumbuhkan kemandirian pada anak adalah fleksibilitas, menyesuaikan perilaku saat kita berinteraksi dengan sang anak. Arahkan mereka hanya pada awalnya, kemudian biarkan mereka melakukan dan memutuskan sendiri sesuatu sesuai dengan proses berkembang mereka menjadi dewasa. Jika orang tua mengintervensi terlalu banyak, anak akan sulit menumbuhkan rasa percaya diri akan kemampuannya sendiri dan ia tidak dapat belajar untuk bertahan saat ia menghadapi kesulitan.

5. Empati
Seorang anak terkadang menunjukkan bentuk primitif dari sikap empati, misalnya dengan menangis saat melihat ibunya sedang menangis. Sebenarnya seorang anak belum mengerti akan perasaan orang lain sebelum usianya mencapai 3-6 tahun. Seorang anak yang berumur 2 tahun tidak akan tahu bahwa dengan menggigit lengan kakaknya berarti ia telah menyakitinya, karena pada saat itu ia sendiri tidak merasakan sakit. Untuk membantu anak memiliki rasa empati, orang tua harus memberitahukan pada anak saat ia melakukan sesuatu yang dapat menyakiti, membuat sedih atau marah orang lain. Katakan padanya, bagaimana jika hal yang sama dilakukan pada dirinya. Katakanlah hal ini berulang-ulang, karena seorang anak umumnya mempunyai sifat egosentris, ia tidak akan memikirkan sesuatu yang tidak langsung ia rasakan. Pada dasarnya orang tua harus memberi contoh dengan melakukan segala hal yang mereka ingin anak-anak lakukan terhadap orang lain, maksudnya adalah dengan memberikan perhatian pada setiap kebutuhan mereka serta menghargai perasaan mereka, karena sikap empati adalah kunci untuk menuju keberhasilan seseorang dalam bersosialisasi.

Semoga bermanfaat

* Sumber: Ustad Joban
Read More

Tuesday, November 10, 2009

Ukhuah itu

Mohon maaf jika selama beberapa minggu ini saya mulai jarang mengapdet blog ini. Aktifitas blogwalking juga sedikit berkurang. Karena biasanya saya blogwalking jika sudah ada apdetan disini. Meski begitu, perasaan ingin terus menyambung silaturrahim tetep ada (baca: rasa ingin ngeblog).

Mengutip email yang saya dapat dari milis:
"Ukhuah itu bukan terletak pada pertemuan...
bukan pada manisnya ucapan di bibir...
tetapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya"
( Imam Al Ghazali)


Hmmmmm... sepertinya ungkapan di atas patut kita resapi. Sudahkah kita mendoakan orang orang disekeliling kita?
Read More

Tuesday, September 01, 2009

BOCAH MISTERIUS 2

Lanjutan dari kisah Bocah Misterius 1

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. "Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinanpada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?" Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.

"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami...! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?

Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan...,jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak...."

Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!

Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.

Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
Read More

Monday, August 31, 2009

BOCAH MISTERIUS 1

Ada sebuah cerita menarik yang aku dapatkan dari milis yang aku ikuti. Kisah seorang bocah yang bisa kita ambil hikmah dibaliknya. Karena lumayan panjang, jadi cerita ini aku jadikan dua postingan, biar gak teler baca cerita ini

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda denganberjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.

Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.

Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. "Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu..

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. "Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.."

Lanjut baca disini
Read More

Sunday, August 30, 2009

Sepuluh Penyelamat

”Tak seorang pun yang diberi Allah sepuluh hal kecuali akan selamat dari berbagai bahaya, dan akan mencapai derajat muqarrabin dan muttaqin.

Pertama, selalu jujur dan memiliki hati yang puas.
Kedua, kesabaran yang sempurna yang disertai rasa syukur.
Ketiga, kemiskinan yang dihiasi dengan zuhud.
Keempat, selalu merenungi keagungan Allah walaupun perutnya dalam keadaan lapar.
Kelima, kesedihan yang disertai rasa takut terus menerus.
Keenam, kesungguhan berkesinambungan diikuti dengan sikap rendah diri.
Ketujuh, kelembutan yang disertai belas kasih.
Kedelapan, cinta membara yang disertai rasa malu yang mendalam.
Kesembilan, ilmu yang bermanfaat bersama sikap yang santun.
Dan Kesepuluh, iman yang membaja disertai akal yang tajam dan kuat.

(Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh).
Read More

© The Journey